Ngasa Gunung Sagara: Warisan Budaya dan Kearifan Lokal Masyarakat Gandoang


Tradisi Ngasa merupakan salah satu bentuk kearifan lokal yang hingga kini masih hidup dan dilestarikan oleh masyarakat Desa Desa Gandoang, Kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah. Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan representasi hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Tuhan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Secara historis, Ngasa diyakini telah berlangsung sejak masa leluhur masyarakat Gandoang yang hidup bergantung pada alam pegunungan. Dalam konteks tersebut, gunung tidak hanya dipandang sebagai bentang geografis, tetapi juga sebagai ruang sakral yang menjadi sumber kehidupan. Oleh karena itu, Ngasa dimaknai sebagai bentuk syukur kolektif kepada Allah SWT atas keberlimpahan hasil bumi, keselamatan hidup, serta keharmonisan sosial yang terjaga sepanjang tahun.

Pelaksanaan Ngasa dilakukan setahun sekali, tepatnya pada hari Selasa Kliwon di bulan Sanga dalam penanggalan Jawa. Pemilihan waktu ini mencerminkan perpaduan sistem kalender tradisional dengan keyakinan spiritual masyarakat. Momentum tersebut dianggap sebagai waktu yang baik untuk memanjatkan doa, membersihkan diri dari unsur negatif, serta memperbarui komitmen kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Rangkaian kegiatan Ngasa diawali dengan tahap pra-ritual, yakni Nyacarkeun Jalan dan Dadangir. Kegiatan ini tidak hanya bermakna persiapan teknis, seperti membersihkan jalur dan lokasi upacara, tetapi juga mengandung nilai simbolik sebagai upaya membuka jalan keberkahan dan keselamatan bagi seluruh masyarakat. Dalam perspektif antropologi budaya, tahap ini menunjukkan bahwa masyarakat tradisional memandang setiap aktivitas ritual harus diawali dengan penataan ruang dan niat yang baik.

Pada hari pelaksanaan, masyarakat berkumpul sejak pagi hari untuk bersama-sama melakukan perjalanan menuju Gunung Sagara yang terletak di sebelah utara desa. Perjalanan sejauh kurang lebih tiga kilometer tersebut ditempuh dalam waktu sekitar dua jam dengan berjalan kaki. Prosesi berjalan bersama ini tidak sekadar perpindahan lokasi, tetapi juga menjadi simbol perjalanan spiritual manusia menuju kesucian dan kedekatan dengan Sang Pencipta.

Seluruh peserta mengenakan pakaian serba putih sebagai lambang kesucian, keikhlasan, dan kesetaraan sosial. Dalam perjalanan tersebut, masyarakat membawa berbagai hasil bumi seperti padi, jagung, umbi-umbian, serta makanan khas Ngasa berupa nasi jagung dan papais jagung. Kehadiran makanan lokal ini menegaskan identitas agraris masyarakat sekaligus menjadi simbol keberkahan alam yang patut disyukuri.

Sebelum mencapai lokasi utama, para peserta terlebih dahulu melakukan prosesi bersuci di Pancuran Lima. Air dari pancuran ini dipercaya sebagai simbol pembersihan lahir dan batin. Dalam perspektif religius, tindakan ini memiliki kesamaan makna dengan praktik wudhu dalam Islam, yaitu menyiapkan diri secara spiritual sebelum memasuki ruang sakral. Sementara dalam konteks budaya, prosesi ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap pentingnya keselarasan antara tubuh, jiwa, dan lingkungan.

Setelah bersuci, rombongan melanjutkan perjalanan menuju halaman Gedong Jimat, yang menjadi pusat pelaksanaan ritual Ngasa. Di tempat tersebut, para pemuka adat membagikan sehelai daun kepada setiap peserta. Daun tersebut kemudian ditarik kembali sebagai simbol pendataan kehadiran sekaligus perlambang kesatuan masyarakat dalam satu ikatan tradisi.

Acara inti Ngasa dimulai dengan sambutan dari juru kunci, tokoh adat, serta perwakilan pemerintah desa hingga dinas pariwisata. Kehadiran unsur pemerintah menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga diakui sebagai potensi wisata spiritual dan budaya daerah.

Salah satu prosesi penting dalam Ngasa adalah ritual Miceun atau “membuang”. Ritual ini melambangkan pelepasan kesialan, penyakit, serta hal-hal buruk yang diyakini dapat mengganggu kehidupan masyarakat. Dalam kajian sejarah budaya, prosesi ini menunjukkan adanya jejak tradisi pra-Islam yang kemudian berakulturasi dengan nilai-nilai Islam. Proses akulturasi ini tidak menghilangkan identitas lama, tetapi justru memperkaya makna spiritual tradisi Ngasa.

Setelah ritual tersebut, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama. Doa ini menjadi puncak spiritual Ngasa, karena di dalamnya terkandung harapan akan keberkahan hasil bumi, keselamatan masyarakat, serta kelestarian alam. Prosesi kemudian ditutup dengan makan bersama seluruh peserta, yang mencerminkan nilai egalitarianisme, solidaritas sosial, dan kebersamaan yang kuat dalam kehidupan masyarakat Gandoang.

Keunikan Tradisi Ngasa terletak pada kemampuannya mempertahankan identitas lokal di tengah perubahan zaman. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ritual spiritual, tetapi juga sebagai sarana pendidikan budaya bagi generasi muda, media penguat identitas kolektif, serta bentuk nyata dari hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Dalam perspektif sosial, Ngasa juga memperlihatkan bahwa masyarakat tradisional memiliki sistem nilai yang menekankan gotong royong, kebersamaan, serta penghormatan terhadap leluhur. Sementara dalam perspektif keagamaan, tradisi ini menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat berdialog dengan budaya lokal secara damai tanpa meniadakan akar tradisi.

Dengan demikian, Tradisi Ngasa Gunung Sagara bukan sekadar upacara adat tahunan, melainkan warisan peradaban lokal yang merefleksikan spiritualitas, kebersamaan, dan kearifan ekologis masyarakat. Pelestarian tradisi ini menjadi penting, bukan hanya untuk menjaga identitas budaya Desa Gandoang, tetapi juga sebagai kontribusi nyata terhadap keberagaman budaya Indonesia.

GENERASI SAIZU TERBAIK 2025

PENGALAMAN ADALAH GURU TERBAIK



Langkah awal memasuki bangku perkuliahan, diawali dengan yang namanya suatu kegiatan. Kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan, yang mana kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan lingkungan kampus, meliputi Birokrat universitas, Dema dan Sema universitas, serta Organisasi dan UKM yang ada di ruang lingkup universitas. 


Tahun 2025, UIN Prof. K. H. Saifuddin Zuhri Purwokerto telah melaksanakan kegiatan PBAK dengan jumlah mahasiswa sekitar 3.125. Kegiatan PBAK kali ini dilaksanakan selama 2 hari, dengan berbagai rangkaian acara yang sangat tersusun oleh panitia.

Pada PBAK ini diadakan apresiasi Generasi Saizu terbaik, yang mana pada pemilihan kali ini diadakan tahapan seleksi oleh Komdis (komisi disiplin), dalam tahan seleksi ini di ajukan pertanyaan seputar materi PBAK serta jajaran Birokrat universitas, Dema dan Sema universitas, dan juga organisasi dan UKM di Universitas. 

Dan alhamdulillah dari ribuan mahasiswa, saya pribadi termasuk ke dalam sepuluh besar Generasi Saizu terbaik 2025. Walupun bukan jadi Top 1 tapi bukanlah berarti gagal, tetapi inilah langkah awal untuk terus berjuang dan berkembang. Jadikanlah kegagalan sebagai sebuah pengalaman untuk mengevaluasi diri bahwa setiap kekurangan bisa di tambahkan, dan setiap ketidaksempurnaan bisa disempurnakan.

Karena pada dasarnya dibalik keberhasilan itu terdapat sebuah proses yang penuh dengan perjuangan. Jadi janganlah kita berfokus pada sebuah pencapaian dan keberhasilan, apresiasilah alur proses percapaian dan berbanggalah terhadap pencapaian diri sendiri walaupun pencapaian itu belum seberapa. Nikmati alur dan prosesnya, karena dengan proses serrta usaha keberhasilan maka akan mudah untuk digapai.


Nabil Antoni Saputra
UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto


[GERSIMAS] Gerakan Bersih-Bersih Masjid

Kegiatan Bersih - Bersih Masjid di Kecamatan Salem



Modernisasi dan perubahan gaya hidup mulai berdampak pada partisipasi masyarakat dalam kegiatan kebersihan masjid. Kesibukan individu serta menurunnya minat generasi muda dalam gotong royong menjadi tantangan dalam pelestarian kebersihan masjid. Jika tidak ada kesadaran kolektif, kebersihan masjid yang dahulu menjadi tanggung jawab bersama bisa terabaikan.

Oleh karena itu, kami membentuk komunitas 'GERSIMAS' yang dipelopori oleh Bapak Momo Setiawan, S.E [Guru SMA Negeri 1 Salem] dengan tujuan untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam membersihkan masjid di seluruh Kecamatan Salem. Melalui edukasi, keterlibatan pemuda, serta pemanfaatan media sosial untuk mengajak masyarakat, diharapkan kegiatan ini tetap lestari. Menjaga kebersihan masjid bukan hanya soal estetika, tetapi juga bagian dari nilai kearifan lokal yang mencerminkan kebersamaan, kepedulian, dan tanggung jawab sosial masyarakat Salem.

Kegiatan ini kami laksanakan setiap hari sabtu pada masa kami duduk di bangku kelas 12 sebagai bentuk untuk mengisi waktu luang, setiap hari sabtu ini kami isi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dan bermasyarakat. 
Terimakasih saya ucapkan kepada diri saya pribadi serta rekan-rekan yang telah berpartisipasi dalam kegiatan ini, semoga menjadi ladang pahala dan dapat menginspirasi banyak orang. 

Siswa dan Siswi Kelas 12 F+8 2025
SMA NEGERI 1 SALEM